STIPRAM

logo-stipram-baru

 

Akademi Pariwisata Ambarrukmo disingkat AkPrAm adalah perguruan tinggi swasta di bawah naungan Yayasan Ambarrukmo yang berdiri tanggal 13 September 2001. Namun terhitung sejak tanggal 5 Agustus 2008, statusnya sudah berubah menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo disingkat STIPRAM

Yayasan Ambarrukmo sendiri adalah lembaga sosial bidang kependidikan yang bekrjasama dengan beberapa baik bertaraf nasional maupun bertaraf internasional, sehingga suatu jaminan kualitas baik SDM, Materi Pengajaran, yang up to date sesuai perkembangan perhotelan dan pariwisata global.

STIPRAM memiliki 2 program studi, yaitu Hospitality (S1) dan Perhotelan (D3)
Hospitality: Suatu kegiatan pelayanan dalam menunjang industri jasa, khususnya kegiatan ilmu kepariwisataan.

Kegiatan ilmu kepariwisataan mencakup keilmuan untuk industri jasa hotel, perbankan, rumah sakit, pegawai negeri, perjalanan termasuk air line, cruise dan overland, yang intinya adalah pelayanan sebagai Host (tuan rumah), masalah science of service dan science of courtesy menjadi pilar utama dalam menyelesaikan setiap pekerjaan (Job Requirment Standard).

Dekade sekarang dan kedepan, hal diatas menjadi nilai kompetitif dan kompetensi bagi Sumber Daya Manusia yang diminta dan dibutuhkan.

Kenapa STIPRAM Unggulan?

Kurikulum berbasis kompetensi kompetitif dan progresif, jaminan nilai profesional bagi SDM handal cukup diselesaikan dalam waktu relatif singkat.

Memiliki pola pengajaran aktif, untuk membuka wawasan, penalaran sekaligus membangun jiwa kemandirian. Laboratorium lengkap, baik bahasa, komputer maupun hotel lab.lainnya dengan fasilitas lengkap kampus terpadu.

Khusus untuk tingkat Diploma 3, modul 30% teori dan 70% praktek, benar-benar diterapkan dengan actual measurement yang terprogram sejak mahasiswa duduk pada semester pertama sampai dengan terakhir, lewat kegiatan Job Oroentaion dan Casual Program agar mendapat job experience maksimal.
Graduate Evaluation diterjemahkan sebagai konsekuensi akademis untuk melihat kekurangan dan kelebihan mahasiswa, untuk dibenahi terus-menerus setiap tahapan, lewat spesialisasi penjurusan.

Secara akademik dan profesi, kemampuan mahasiswa STIPRAM disiapkan pada level mengengah ke atas dengan mantap, sebab selain menguasai technical skill juga harus menguasai managerial skill. Bukan hal aneh semasih berstatus mahasiswa sudah terfasilitasi bekerja baik di dalam maupun luar negeri.

Membekali mahasiswa untuk eksis, mandiri dan percaya diri untuk merebut posisi terhormat di masa depan. Pembelajaran praktikum dengan modul seating-system, hanya ada di STIPRAM. Semua kegiatan praktikum dan praktek gratis dengan ditunjang kerjasama dengan berbagai hotel baik dalam negeri maupun luar negeri. Biaya perkuliahan sangat murah dibanding apa yang didapatkan.

Kenapa Harus Pilih STiPRAM

  1. Kuliah tepat waktu D3 cukup 2,8 tahun dan S1 hanya 3,8 tahun
  2. Biaya termurah
  3. Kuliah sambil kerja
  4. Semester ke-2 sudah magang kerja, dapat honor semester ke-4 sudah bekerja dapat gaji baik di dalam maupun di luar negeri
  5. Akses untuk PNS terbuka lebar
  6. Di Indonesia baru 4 (empat) Perguruan Tinggi Pariwisata yang memiliki Ijin Resmi untuk S1 (Strata satu)
  7. Program D3 terakreditasi A Program S1 (Pertama di Indonesia) Terakreditasi A.
  8. Tersedia banyak macam beasiswa, termasuk Beasiswa Unggulan
  9. Tersedia Asrama Mahasiswa
  10. Terfasilitasi JOINT DEGREE (Satu kali kuliah dapat 2 Ijazah, dengan Perguruan Tinggi Luar Negeri)

Kerjasama

Kerjasama dengan Perguruan Tinggi dalam dan luar negeri , khususnya di bidang kepariwisataan selalu ditingkatkan. Dalam negeri tergabung dalam asosiasi Hildiktipari (memperluas lembaga pendidikan tinggi pariwisata Indonesia) secara aktif di luar negeri, selalu ditingkatkan dengan Workshop dan seminar Internasional.Dengan Burapha University di Bangkok Thailand dan Nilai University di Kuala Lumpur Malaysia telah meningkat menjadi kerjasama Joint Degree (satu kali kuliah mendapatkan 2 Ijazah) setara Internasional adapula peringkatan untuk pendidikan profesi khusus Culinarry (chef-profesi), telah  bersama Asean Culinarry Academy di Kuala Lumpur Malaysia.

Kerja Praktek di luar negeri maupun casual, network kita di Singapura, Malaysia, Belanda, Uni Emirat Arab, UK (Inggris) atau USA (Amerika) sudah merupakan salah satu sasaran pengalaman kerja yang terarah, termasuk profesi di kapal pesiar dunia.

Di dalam negeri dengan bekerjasama dengan Accor Group, Choice, Hyatt, Sheraton, Haris Group dan sebagainya yang merupakan unit industri untuk mengasah experience knowladge maupun soft skill mahasiswa. Belum lagi banyak Hotel, Restoran.

Tentunya pula dengan pemerintah, telah dijalin kerjasama penyediaan SDM berkualitas untuk di manfaatkan pegawai negeri (PNS). Apalagi kebutuhan S-1 Pariwisata sebagai Standart Recruitment ke depan sangat di perlukan, untuk mengisi semua lini dinas pemerintah (PNS)

 

Berpikir Intelektual, Bertindak Profesional

ALUN ALUN KIDUL

alun-alun-kidul-yogyakarta

Kalau kamu mencari lokasi nongkrong di Jogja saat malam selain Malioboro dan kawasan Titik Nol KM, Alun-alun Kidul adalah pilihan terbaik. Terletak tak jauh dari Taman Sari, halaman belakang Keraton Yogyakarta ini menjadi tempat bercengkerama warga Jogja dan juga lokasi hangout para wisatawan di malam hari. Sejak sore, lapangan yang ditumbuhi 2 pohon beringin di tengahnya ini mulai menampakkan geliatnya. Pedagang membuka lapaknya, pemilik odong-odong mulai menyalakan lampu, dan satu persatu wisatawan berdatangan.

Sebelum menjadi tempat nongkrong yang ngehits seperti saat ini, dulunya Alun-alun Kidul atau yang lebih dikenal dengan nama Alkid ini merupakan sasana latihan ketangkasan untuk para prajurit keraton. Halaman belakang istana Raja Jogja ini juga sarat akan cerita. Konon dibangunnya alun-alun ini agar bagian belakang Kraton nampak seperti bagian depan yang juga ditanami pohon beringin kembar. Hal ini bertujuan supaya keraton tidak terkesan membelakangi Laut Selatan yang dikuasai Ratu Kidul.

Cerita lainnya yang begitu lekat dengan keberadaan Alkid adalah mitos masangin alias masuk di antara dua beringin. Sejarah ritual masangin ini berawal dari ritual topo bisu mubeng beteng yang dilakukan tiap malam 1 suro. Selama mengitari beteng, orang-orang tidak boleh bersuara. Akhir dari ritual tersebut adalah melewati ringin kurung. Konon di antara kedua beringin tersebut terdapat rajah yang berfungsi sebagai penolak bala. Orang-orang yang memiliki hati bersih akan mampu melewati ringin kurung, sedangkan yang berniat jahat tidak akan lolos.

Saat ini masangin bukan lagi menjadi ritual, melainkan hanya sebatas permaian. Siapa pun yang berkunjung ke Alun-alun Kidul dan penasaran dengan mitosnya boleh mencoba permainan masangin ini. Usai bermain masangin, kamu bisa menyewa sepeda tandem atau odong-odong hias yang dipenuhi lampu warna-warni. Mengayuh sepeda dan odong-odong di tengah kerumunan manusia dan jalan yang cukup padat memaksamu harus ekstra hati-hati. Wisata malammu di Alkid bisa diakhiri dengan menyesap wedang ronde atau secangkir kopi sembari duduk lesehan di atas tikar.

Suasana Malam Alun-alun Kidul Yogyakarta.
Suasana malam Alun-alun Kidul Yogyakarta. (Benedictus Oktaviantoro/Maioloo.com)

Aktivitas Yang Bisa Dilakukan Di Alun-Alun Kidul

  • Masangin
    Hal pertama dan utama yang wajib kamu lakukan saat berkunjung ke Alkid adalah melakukan permainan masangin. Aturan mainnya sangat sederhana, yakni kamu harus berjalan kaki dari ujung alun-alun hingga melintasi 2 ringin kurung (beringin kembar yang ada di tengah alun-alun) dengan mata tertutup. Sepintas hal ini terlihat sangat mudah. Namun percayalah, masangin tidak semudah kelihatannya. Rata-rata orang memerlukan lebih dari 1 kali percobaan sebelum bisa melewati pohon beringin. Biasanya mereka bukannya melintasi ringin kurung melainkan berbelok jauh. Berdasarkan mitos yang dipercayai masyarakat, konon hanya mereka yang bersih hatinya yang bisa melintas dengan sukses pada percobaan pertama.
  • Naik Sepeda Tandem & Odong-odong
    Salah satu hal yang menjadikan Alkid begitu semarak di malam hari adalah keberadaan sepeda tandem dan becak wisata atau odong-odong. Berhiaskan lampu warna-warni dan didekor secara menarik, dua alat trasnportasi ini akan menemanimu mengitari alun-alun. Cukup merogoh kocek sekitar Rp 15.000 – Rp 30.000, kamu sudah bisa menyewa sepeda tandem atau odong-odong. Mengayuh sepeda tandem atau odong-odong di tengah kemacetan jalan dan lalu lalang orang akan menjadi pengalaman yang mengasyikkan.
  • Ngangkring & Lesehan
    Salah satu cara menikmati Alun-alun Kidul adalah dengan jajan di angkringan atau duduk lesehan di selembar tikar. Sembari menikmati makanan yang sudah dipesan, kamu bisa bercakap soal apa saja mulai dari dosen killer, tugas yang menumpuk, kuliah yang tak kunjung usai, cinta yang ditolak, hingga sok serius membahas negara. Taburan gemintang di langit malam serta udara dingin yang mulai merasuk akan menjadikan malammu di Alkid semakin romantis.
  • Wisata Kuliner
    Selain makanan yang dijajakan oleh penjual angkringan dan warung-warung lesehan, di Alkid juga terdapat penjaja makanan lain seperti wedang ronde, tempura, es goreng, cilok, dan jajanan lainnya. Tak ada salahnya untuk mencicipi aneka jajanan yang akan mengingatkan pada masa kanak. Deretan café dan warung kopi yang ada di Alun-alun Kidul pun bisa kamu datangi. Jika kamu ke Alkid pada siang hari, silahkan mampir ke Warung Handayani di jalan menuju Plengkung Gading. Di warung ini kamu akan menjumpai brongkos yang benar-benar leker!

Lokasi Alun-Alun Kidul

Sesuai dengan namanya, Alun-Alun Kidul, lapangan ini terletak di sebelah selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di Jl. Alun-Alun Kidul, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Harga Tiket

Alun-alun Kidul merupakan area publik yang bisa diakses oleh siapa pun. Jadi kamu tidak perlu membayar tiket. Jika ingin berwisata ke tempat ini kamu hanya perlu menyiapkan uang untuk membayar parkir, jajan, menyewa penutup mata, atau menyewa sepeda tandem dan becak hias.

Tempat Wisata dan Lokasi Asyik di Sekitar Alun-Alun Kidul

  • Keraton Yogyakarta
    Salah satu alasan utama keistimewaan Jogja adalah keberadaan Keraton Yogyakarta yang masih menjadi tempat tinggal Sultan dan keluarganya hingga kini. Tempat yang menjadi detak jantung kebudayaan Jawa ini memiliki koleksi beragam benda dengan nilai historis tinggi yang bisa kamu nikmati. Saat berkunjung ke keraton kamu juga bisa berinteraksi dengan para abdi dalem dalam balutan busana Jawa serta melihat pertunjukan seni.
  • Taman Sari
    Kalau kamu ingin mencari lokasi yang asik untuk berfoto-foto, Tamansari wajib masuk dalam daftar. Bangunan cagar budaya ini memiliki desain yang sangat cantik, perpaduan dari arsitektur jawa dan Eropa. Kolam pemandian yang eksotik, lorong-lorong yang cantik, serta masjid bawah tanahnya yang unik menjadi objek bidikan yang menarik. Dari Alkid, Tamansari bisa dicapai dengan jalan kaki atau naik becak.
  • Plengkung Gading
    Plengkung Gading merupakan bagian dari beteng pertahanan Keraton Jogja yang dibangun ratusan tahun lalu. Bagian bawah Plengkung Gading yang menyerupai lorong berukuran kecil menjadi jalan bagi kendaraan yang melintas, sedangkan bagian atasnya berupa tempat yang cukup lapang. Jika kamu berdiri di atap Plengkung Gading pada sore hari kamu bisa menyaksikan pemandangan senja yang indah.

Kuliner di Sekitar Alun-alun Kidul

  • Brongkos Handayani
    Brongkos Handayani atau yang lebih dikenal dengan nama Brongkos Alkid terletak di salah satu sudut Alkid, tepatnya di ruas jalan menuju Plengkung Gading. Warung yang eksis sejak tahun 1960-an ini menyajikan brongkos dengan resep rahasia sehingga rasanya istimewa. Selain itu, warung yang buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga habis ini juga menjual soto ayam dan nasi pecel yang tak kalah lezatnya.
  • Angkringan Wijilan
    Meski bernama angkringan, tempat ini tidak menyerupai angkringan pada umumnya. Angkringan Wijilan memiliki tempat yang luas, terbagi menjadi area lesehan dan area kursi. Selain menu sego kucing, disini juga ada tambahan menu lain seperti pecel, oseng-oseng kikil, oseng-oseng teri, aneka sate, dan banyak menu lainnya. Lokasinya yang strategis dan tempatnya yang cozy menjadikan angkringan ini sebagai salah satu tempat nongkrong asyik di Jogja kala malam.
  • Gudeg Wijilan
    Kalau kamu ingin mencicipi makanan khas Jogja satu ini, kamu bisa pergi ke kawasan Wijilan yang tidak jauh dari Alun-alun Kidul. Di ruas jalan seusai Plengkung Wijilan ini terdapat banyak penjual gudeng baik yang menjualnya di emperan maupun di dalam restaurant. Soal rasa dijamin joss. Kamu bisa memilih sendiri gudeg siapa yang ingin kamu makan.
  • Bakmi Pak Pele
    Terletak di Timur Pagelaran Kraton, Alun-alun Utara (depan SD Keputran), Bakmi Pak Pele menjadi salah satu warung bakmi legendaris di Jogja. Meski hanya berupa warung tenda, cita rasa Bakmi Pak Pele bisa diadu. Warung ini menyediakan bakmi goreng, bakmi godhog, bakmi nyemek, nasi goreng, dan magelangan. Berbeda dengan bakmi di tempat lain yang mienya di campur, di warung ini kamu bisa memilih bakmi kuning maupun bakmi bihun. Citarasa Bakmi Pak Pele cenderung gurih dan manis, sesuai dengan lidah orang Jogja.

SUMBER : https://www.maioloo.com/tempat-wisata/yogyakarta-jogja/alun-alun-kidul-jogja/

KRATON JOGJA

Keraton-Yogyakarta

Kraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di jantung kota Yogyakarta. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah bergabung dalam NKRI pada tahun 1950, namun komplek keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Kraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata favorit yang paling sering dikunjungi di kota Jogja. Sebagian kompleks kraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, kereta kencana dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki beberapa balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.

Kraton Yogyakarta didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1755. Lokasi keraton ini konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram yang akan dikebumikan di Imogiri.


Jalan Menuju Kraton Yogyakarta

Kraton Yogyakarta Hadiningrat berada tepat di sebelah selatan Alun-alun Utara kota Yogyakarta atau hanya berjarak kurang lebih 50 meter dari Jalan Malioboro atau yang kini telah resmi berganti nama menjadi jalan Margo Mulyo. Jadi jika Anda menggunakan kereta api, silahkan turun di stasiun Tugu lalu berjalan lurus ke arah selatan melewati perempatan Jalan Malioboro sampai bertemu dengan lapangan luas yang tidak lain adalah Alun-alun Utara. Jadi jika Anda berkunjung ke Maliboro, pastikan mampir juga untuk menapak tilas sejarah kraton Yogyakarta.


Jam Buka dan Harga Tiket Masuk

Kraton Yogyakarta dibuka untuk para wisatawan setiap hari dari jam 08.00 – 14.00 wib. Tapi khusus untuk hari Jum’at, wisata kraton Jogja dibuka dari jam 08.00 wib – 12.00 wib. Adapun harga tiket masuknya adalah sebesar Rp.7.000,- untuk wisatawan lokal dan Rp. 12.500,- untuk wisatawan asing atau manca negara.


Aktivitas yang dapat dinikmati
  1. Wisata Sejarah.
    Melihat barang bersejarah koleksi keraton Yogyakarta dari dekat seperti kereta kencana para raja Yogyakarta pada zaman dahulu, koleksi lukisan, benda pusaka seperti keris, tombak dilengkapi dengan nama-namanya, perangkat musik seperti gamelan dan gong.
  2. Berfoto.
    Anda bisa puas berfoto dengan background benda-benda koleksi keraton Yogyakarta yang tentunya tidak bisa orang lain dapatkan di tempat lain. Namun untuk bisa mengambil foto di lingkungan keraton sepuasnya, Anda harus membayar tiket izin mengambil gambar seharga Rp.1000,-. Murah bukan?
  3. Menyaksikan Pagelaran Seni.
    Selain bisa melihat langsung bagaimana para abdi dalem keraton Yogyakarta menyambut para pengunjung dengan busana adat Keraton Jogja, Anda juga bisa melihat pagelaran pentas seni yang digelar setiap hari untuk para wisatawan. Berikut jadwal pagelaran karya seni harian di Keraton Jogja:

    • Senin dan Selasa: Musik gamelan (mulai jam 10.00 wib)
    • Rabu: Wayang golek menak (mulai jam 10.00 wib)
    • Kamis: Pertunjukan tari (mulai jam 10.00 wib)
    • Jumat: Macapat (mulai jam 09.00 wib)
    • Sabtu: Wayang kulit (mulai jam 09.30 wib)
    • Minggu: Wayang orang & pertunjukan tari (mulai jam 09.30 wib)

Fasilitas Umum di Kraton Yogyakarta
  1. Tempat Parkir Kendaraan.
    Karena letaknya yang tidak jauh dari jalan Malioboro, maka Anda tidak akan kesulitan menemukan tempat parkir di seputaran Kraton Yogyakarta. Ada beberapa titik lokasi yang memang disediakan untuk memarkir kendaraan seperti di sebelah timur Alun-alun utara ataupun di area parkir Masjid Agung yang berada di sebelah barat alun-alun utara.
  2. Tempat Ibadah.
    Bagi Anda umat muslim, Anda bisa mengerjakan ibadah shalat dan sekedar melepas penat di Masjid Gedhe Kauman yang terletak di sebelah barat Alun-alun Kraton Yogyakarta. Bentuknya yang masih mempertahankan model klasiknya pun bisa Anda jadikan sebagai salah satu tempat untuk mengabadikan perjalanan Anda di kota Yogyakarta.
  3. Penginapan.
    Ada banyak penginapan ataupun hotel yang terletak tidak jauh dari Kraton Yogyakarta, sebut saja Alkid Homestay dan Griya Patehan Guest House yang hanya berjarak kurang lebih 300 meter dari Kraton Yogyakarta. Anda juga dapat menginap di hotel berbintang yang terletak di sepanjang jalan Malioboro. Jadi untuk masalah penginapan, Anda tidak perlu khawatir. Anda bisa mencari booking hotel secara online di Agoda (kartu kredit) atau PegiPegi (bisa dengan transfer) dengan memasukkan kata kunci: “malioboro“.
  4. Tempat Makan.
    Seperti pada umumnya kota besar lainnya, ada banyak warung makan yang bisa Anda jumpai di sekitar objek wisata sejarah Kraton Yogyakarta. Pada malam hari, Anda bisa berjalan ke jalan Malioboro dan bisa leluasa menikmati makanan khas Jogja yaitu Gudeg di warung-warung pedagang kaki lima yang membuka lapaknya di sepanjang jalan Malioboro.
  5. Toko Cinderamata dan Oleh-oleh.
    Banyak toko souvenir dan cinderamata seperti toko batik, keris dan lain sebagainya yang bisa Anda jumpai tidak jauh dari Kraton Yogyakarta. Untuk oleh-oleh makanan khas Jogja, Anda pun bisa membeli bakpia Patok, Geplak dan jajanan khas Jogja lainnya di jalan Maliboro atau bisa langsung naik becak dan minta diantar ke kawasan pertokoan yang khusus menjual makanan khas Jogja.

Tips berwisata di Keraton Yogyakarta.
  1. Berperilaku Sopan.
    Berperilakulah yang sopan selama Anda berada di lingkungan Keraton Yogyakarta. Selalu jaga ketertiban dan ketenangan Anda terutama jika Anda membawa anak-anak karena biasanya mereka akan selalu berusaha meraih dan mengambil barang baru yang ia lihat. Jika sampai rusak, bukan tidak mungkin Anda tidak bisa menggantinya karena mungkin itu adalah koleksi satu-satunya.
  2. Perhatikan Papan Petunjuk.
    Selalu perhatikan papan petunjuk karena beberapa aktivitas yang mungkin menurut Anda wajar tetapi sebenarnya dilarang oleh pihak keraton. Beberapa larangan di antaranya:

    • Dilarang merokok.
    • Dilarang duduk di bangsal Kencono dan bangsal sekitarnya.
    • Dilarang memasukkan uang ke dalam sumur.
    • Dan larangan lainnya.

Demikianlah informasi tentang objek wisata sejarah Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Semoga bermanfaat dan jika Anda suka artikel ini, mohon berikan like, twit atau share pengalaman berwisata ke Kraton Jogja. Terima kasih.

SUMBER : http://wisatapedi.id/info-lengkap-objek-wisata-sejarah-kraton-yogyakarta/

TAMAN SARI

Yogyakarta_Indonesia_Taman-Sari-01

Jl. Taman, Kraton, Yogyakarta 55133, Indonesia
Lihat peta

Gemercik air, keindahan arsitekturnya yang kuno, dan pemandangan yang menakjubkan membuat Taman Sari sangat mempesona. Lorong-lorong dan bangunannya menjadikan Taman Sari penuh rahasia yang akan terus dikuak.

Tiket
Rp 3.000
Rp 7.000 (WNA)

Buka setiap hari
Pk 08:00 – 14:00 WIB

Masa setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi membangun keraton sebagai pusat pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I membangun keraton di tengah sumbu imajiner yang membentang di antara Gunung Merapi dan Pantai Parangtritis. Titik yang menjadi acuan pembangunan keraton adalah sebuah umbul (mata air). Untuk menghormati jasa istri-istri Sultan karena telah membantu selama masa peperangan, beliau memerintahkan Demak Tegis seorang arsitek berkebangsaan Portugis dan Bupati Madiun sebagai mandor untuk membangun sebuah istana di umbul yang terletak 500 meter selatan keraton. Istana yang dikelilingi segaran (danau buatan) dengan wewangian dari bunga-bunga yang sengaja ditanam di pulau buatan di sekitarnya itu sekarang dikenal dengan nama Taman Sari.

“Dari atas Gapura Panggung ini Sultan biasa menyaksikan tari-tarian di bawah sana. Bangunan-bangunan di sampingnya merupakan tempat para penabuh dan di tengah-tengah biasa didirikan panggung tempat para penari menunjukkan kepiawaian dan keluwesan mereka,” terang seorang pemandu ketika YogYES memasuki Taman Sari. Dari Gapura Panggung, pemandu membawa YogYES masuk ke area yang dulunya hanya diperbolehkan untuk Sultan dan keluarganya, kolam pemandian Taman Sari. Gemericik air langsung menyapa. Airnya yang jernih berpadu apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).

Sebuah periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh berdiri ketika YogYES memasuki menara tempat pribadi Sultan. Ornamen yang menghiasi periuk memberi kesan glamor terhadap benda yang terletak di samping lemari pakaian Sultan tersebut. Bisa dibayangkan, 200 tahun lalu seorang wanita cantik menunggu air di periuk ini hingga tenang lalu dia menundukkan kepalanya, memperbaiki riasan dan sanggulnya, memperindah raganya sembari bercermin. Selain periuk dan kamar pribadi Sultan, di menara yang terdiri dari tiga tingkat ini ada tangga dari kayu jati yang masih utuh terawat sehingga memberi kesan antik bagi siapa pun yang melihatnya. Naik ke tingkat paling atas, pantulan mentari dari kolam di bawahnya dan seluruh area Taman Sari terlihat dengan jelas. Mungkin dahulu Sultan juga menikmati pemandangan dari atas sini, pemandangan Taman Sari yang masih lengkap dengan danau buatannya dan bunga-bunga yang semerbak mewangi.

Selepas menikmati pemandangan dari atas menara, pemandu lalu membawa YogYES menuju Gapura Agung, tempat kedatangan kereta kencana yang biasa dinaiki Sultan dan keluarganya. Gapura yang dominan dengan ornamen bunga dan sayap burung ini menjadi pintu masuk bagi keluarga Sultan yang hendak memasuki Taman Sari. Pesanggrahan tepat di selatan Taman Sari menjadi tujuan berikutnya. Sebelum berperang, Sultan akan bersemedi di tempat ini. Suasana senyap dan hening langsung terasa ketika YogYES masuk. Di sini, Sultan pastilah memikirkan berbagai cara negosiasi dan strategi perang supaya kedaulatan Keraton Yogyakarta tetap terjaga. Areal ini juga menjadi tempat penyimpanan senjata-senjata, baju perang, dan tempat penyucian keris-keris jaman dahulu. Pelatarannya biasa digunakan para prajurit berlatih pedang.

YogYES pun berpisah dengan pemandu di depan Gapura Agung. Namun, ini bukan berarti perjalanan terhenti karena masih ada beberapa tempat yang harus disinggahi seperti Sumur Gumuling dan Gedung Kenongo. Untuk menuju tempat tersebut, Anda harus melewati Tajug, lorong yang menghubungkan Taman Sari dengan keraton dan juga Pulo Kenongo. Lorong bawah tanah yang lebar ini memang untuk berjaga-jaga apabila keraton dalam keadaan genting. Ruang rahasia banyak tersembunyi di tempat ini. Keluar dari Tajug, Anda akan melihat bekas dari Pulo Kenongo yang dulunya banyak ditumbuhi bunga kenanga yang menyedapkan Taman Sari. YogYES pun menuju Sumur Gumuling, masjid bawah tanah tempat peribadatan raja dan keluarga. Bangunan dua tingkat yang didesain memiliki sisi akustik yang baik. Jadi, pada zaman dahulu, ketika imam mempimpin shalat, suara imam dapat terdengar dengan baik ke segala penjuru. Sekarang pun, hal itu masih dapat dirasakan. Suara percakapan dari orang-orang yang ada jauh dari kita terasa seperti mereka sedang berada di samping kita. Selain itu, Untuk menuju ke pusat masjid ini, lagi-lagi harus melewati lorong-lorong yang gelap. Sesampainya di tengah masjid yang berupa tempat berbentuk persegi dengan 5 anak tangga di sekelilingnya, keagungan semakin terasa. Ketika menengadahkan kepala terlihat langit biru. Suara burung yang terdengar dari permukiman penduduk di area Taman Sari semakin menambah tenteram suasana.

Persinggahan terakhir adalah Gedung Kenongo. Gedung yang dulunya digunakan sebagai tempat raja bersantap ini merupakan gedung tertinggi se-Taman Sari. Di tempat ini Anda dapat menikmati golden sunset yang mempesona. Keseluruhan Taman Sari pun bisa dilihat dari sini, seperti Masjid Soko Guru di sebelah timur dan ventilasi-ventilasi dari Tajug. Puas dengan kesegaran air dari Taman Sari, langit akan menyapa. Pemandangan yang indah sekaligus mempesona ditawarkan Taman Sari. Pesona air yang apik berpadu dengan tembok-tembok bergaya campuran Eropa, Hindu, Jawa, dan China menjadi nilai yang membuat Taman Sari tak akan terlupakan.

 

SUMBER : https://gunungpurba.wordpress.com/2017/11/09/tamansari-yogyakarta/

UMBUL PONGGOK

cover-umbul-ponggok-604x270

alami ini sudah ada sejak zaman Belanda, dengan ukuran 50 x 25 meter dan kedalaman rata-rata 1,5 – 2,6 meter. Anda tak perlu takut terbawa gelombang, sebab tempat snorkling kali ini bukanlah laut melainkan sebuah sumber mata air alami yang segar dan sangat jernih. Berbeda dengan kolam renang yang dasarnya berupa lantai keramik, dasar Umbul Ponggok masih sangat alami berupa hamparan pasir nan luas, bebatuan, dan ribuan ikan warna-warni sehingga suasananya benar-benar seperti dibawah laut. Meski dipenuhi ikan, air di Umbul Ponggok ini tidak amis sebab airnya mengalir terus-menerus. Selain sebagai tempat snorkling, Umbul Ponggok juga kerap dijadikan lokasi latihan diving bagi penyelam pemula sebelum mereka benar-benar menyelam di laut. Sedangkan bagi anak-anak tersedia kolam berukuran pendek yang bisa dijadikan lokasi berenang maupun sebatas bermain air.

Salah satu hal yang harus dilakukan saat berada di Umbul Ponggok adalah melakukan sesi pemotretan di dalam air. Bagi pengunjung yang tidak memiliki kamera underwater tidak perlu khawatir. Di Umbul Ponggok terdapat jasa penyewaan kamera underwater dan sudah termasuk operator kameranya. Juga menyediakan Paket Diving, Paket Power Dive ( walker ), persewaan alat dan property untuk foto. Silahkan pengunjung langsung menghubungi pengelola yang berada di dalam lokasi Umbul Ponggok.

 

SUMBER : https://gunungpurba.wordpress.com/2017/11/07/umbul-ponggok/

EMBUNG SRITEN

embung_sriten_jogja

Terletak di kawasan perbukitan Batur Agung, Embung Sriten menjadi telaga buatan tertinggi di Yogyakarta. Selain fungsi utamanya sebagai sumber pengairan kebun buah, Embung Sriten juga menjadi magnet wisata baru di Gunungkidul.

Sejak dulu Kabupaten Gunungkidul identik dengan kawasan yang gersang dan tandus serta rawan kekeringan. Hal ini dikarenakan kontur wilayahnya yang tersusun dari batuan karst atau batuan kapur. Namun kini pandangan tersebut perlu diubah sebab Gunungkidul justru menjadi kawasan yang menyajikan wahana wisata tirta paling beragam di Yogyakarta.

Argo Embung Batara Sriten atau yang dikenal dengan nama Embung Sriten adalah salah satu obyek wisata tirta yang wajib Anda kunjungi saat datang ke Yogyakarta. Telaga buatan yang terletak di puncak bukit ini menjadi embung tertinggi di Yogyakarta. Wisatawan yang berkunjung ke Embung Sriten pun akan dimanja dengan udara yang sejuk dan panorama yang sangat indah.

Mata wisatawan tidak hanya disuguhi pemandangan telaga dengan latar awan gemawan dan hutan yang menghijau. Dari tempat ini wisatawan juga bisa menyaksikan Rawa Jombor serta Waduk Gajah Mungkur dari kejauhan. Tak hanya itu, saat malam menjelang wisatawan yang berkemah di tempat ini bisa menyaksikan keindahan lampu Kota Klaten dan Nglipar.

Dari ketinggian Embung Sriten, wisatawan juga bisa menyaksikan sunset maupun sunrise tanpa terhalang pepohonan. Saat pagi menjelang, gumpalan kabut yang melingkupi area di bawah embung serupa kue lapis berwarna hijau putih dan terlihat sangat menyejukkan mata. Saat senja tiba, kilau cahaya keemasan yang menerpa permukaan air menjadi pemandangan epic yang sayang dilewatkan.

Selain menyajikan wisata telaga buatan, Embung Sriten juga menjadi kebun buah kelengkeng, manggis, durian, dan sirsak. Kedepannya di tempat ini akan dibangung landasan paralayang berskala internasional.

Lokasi dan Akses Menuju Embung Sriten

Embung Sriten terleyak di Bukit Sumilir, Dusun Sriten, Desa Pilangrejo, Kecamatan, Nglipar, Gunungkidul. Dari Yogyakarta silahkan ikuti jalan yang menuju Gunungkidul. Sesampainya di pertigaan Nglipar belok ke kiri dan ikutu jalan hingga menemukan Balai Desa Pilangrejo di ruas jalan Ngawen – Nglipar. Setelah itu Anda bisa bertanya kepada penduduk lokal.

Bagi wisatawan yang hendak berkunjung ke Embung Sriten pastikan kendaraan Anda dalam kondisi prima. Sangat disarankan untuk tidak menggunakan motor matic jika ingin berkunjung ke tempat ini. Hal ini dikarenakan jalan menuju Embung Sriten dipenuhi tanjakan dan tikungan tajam serta sebagian berupa jalan makadam

SUMBER : https://gunungpurba.wordpress.com/2017/11/07/embung-sriten/

MONJALI

SANYO DIGITAL CAMERA

Beranjak sore dan masih ingin menikmati Jogja, coba saja datang ke Monumen Jogja Kembali (MONJALI). Jika petang tiba, halaman Monjali ini berubah menjadi taman pelangi cantik yang dipenuhi lampion-lampion. Di taman ini kita bisa melihat pelangi bahkan di malam hari. Lampion aneka bentuk dan warna memanjakan mata. Bermacam-macam wahana permainan juga tersedia. Jika lapar tiba, kita bisa menikmati berbagai macam kuliner yang dijual di sini. Untuk mencapai taman dan monumen ini, kita yang datang dari Stasiun Tugu, dapat berjalan menuju Halte Malioboro 1, lalu naik bus Trans Jogja rute 2A dan turun di Halte Ring Road Utara (Monjali 2). Sedangkan Jika Anda datang dari Terminal Jombor, kita bisa naik bus Trans Jogja rute 2B dan turun di Halte Ring Road Utara (Monjali 1).

SUMBER : https://gunungpurba.wordpress.com/2017/11/07/monjali/